Sikap Kapten Kapal Phinisi dan Kapten Kapal Titanic dalam Menghadapi Badai

Kapten Kapal Phinisi

Saat menghadapi badai di tengah laut, kapten kapal Phinisi menempatkan dirinya “menyatu” dengan badai dan memanfaatkan angin badai untuk “menaklukkan” dan melewati gobadai – bukan melawan badai. Atas kecerdikan dan sikap menyatu dengan badai maka kapten kapal Phinisi bisa mengarungi samudra yang penuh badai,

Kapten Kapal Titanic

Kapten kapal Titanic yang tenggelam di Samudra Atlantik disebabkan karena sikap kapten kapal yang sombong, angkuh, sok tahu, dan sikap melawan badai dan akhirnya badai menenggelamkan kapal terbesar dan termewah saat itu bersama hampir seluruh penumangnya.

Jika dikaitkan dengan situasi saat ini, maka kecerdikan kapten kapal Phinisi dapat “disetarakan” dengan kecerdikan pimpinan Iran dalam menaklukkan badai.

Sementara sikap Trump dan Netanyahu dapat disetarakan dengan kapten kapal Titanic yang sombong, angkuh, sok tahu serta tidak mau mendengarkan.

Agar Indonesia yang besar bagaikan kapal Titanic tidak mengalami nasib seperti kapal Titanic, maka pemimpin Indonesia hendaknya memiliki sikap seperti kapten kapal Phinisi yang menyatu dengan badai (banyak mendengar – bukan seperti kapten kapal Titanic yang sombong.